Rasanya sudah habis waktuku tuk berlama-lama di sini, tak ada gunanya menunggu sesuatu tanpa jawaban yang pasti. Huh..tak cukup secangkir kopi tuk menemaniku menunggunya di café mungil dekat komplek rumahku, sampai- sampai total akhirku tiga kali lipat dari harga normal. Setelah tepat pukul 22.00 aku memutuskan tuk pulang, bukan karna uangku yang menipis, tapi juga karna mataku sudah memerah memaksaku tuk memejamkanya. Aku secepat mungkin menuju mio merah yang setia menemaniku, hingga tak usah dikata aku bisa sampai rumah 10 menit setelahnya.
Braggg,,tubuhku sengaja ku jatuhkan. Hanya lelah dan kecewa yang bisa ku rasakan malam ini. Harapan bersamanya pupus setelah aku memutuskan tuk kembali pulang. Ini yang tak kusuka darinya, membuat janji tapi tak ditepatinya sendiri. Sungguh, sangat, membosankan sekali. Terdiam aku di atas tempat tidurku yang beralaskan bedcover bergambar kepala sapi. Tanganku hanya bisa memegang HP tanpa ada gerakan tambahan, nomernya pun hanya ku pandangi saja. Memang sengaja tak ku tinggalkan pesan untuknya. Itu juga karna masa tenggangku habis. Tanpa pikir panjang sesegera mungkin ku paksa pikiranku tuk menuju alam yang pasti ku kunjungi setiap malam. Malam berlalu. Panjang.
Rasanya baru ku tenangkan pikiranku sejenak, tetapi alarm kamarku berbunyi lebih cepat dari yang kubayangkan. Akupun menata diri untuk segera mengisi nomor absensi 11 di kelas IPA- 3, di salah satu SMA Negeri daerah Sukabumi, Jawa Barat. Tak begitu jauh dari rumahku, sekitar 11,3 km dengan keadaan lalu lintas kota yang bisa dibilang padat- padat ngadat. Maklum jam sekolah. Dengan kecepatan 60 km/jam seperti biasa aku memakai jacket merah dengan sepatu sport yang ku padukan dengan warna jacket kesayanganku. Sampai juga aku di depan gerbang sekolah vaforitku, sebenarnya tak begitu sih..tapi karna disinilah tempatku belajar jadi inilah sekolah vaforitku. Dan yang pasti disinilah aku bertemu Damar sejak 19 bulan yang lalu, iya, dia sahabat yang selalu berbagi cerita apa pun denganku termasuk berbagi sanksi yang sering sekali ia lakukan. Dan bukan Damar jika ia selalu menepati janji- janjinya. Ada saja alasan untuk selalu membatalkan janji tiba- tiba. Posisisnya pun berbeda dalam hati, tak sekedar sahabat sebenarnya. Tapi apalah itu, tak ada waktu untukku menjelaskanya.
Segera ku menuju kelas dan mengambil posisi yang sama seperti hari- hari sebelumya, ku lirik sedikit bangku sampingku. Ternyata tas punggung hitam dengan pin berinisial “D” sudah mengambil start lebih dulu dari aku, walaupun tak ku lihat batang hidungnya. Bel sekolah berbunyi. Bukan pelajaranya yang ku tunggu, tetapi muka sengit si Damar yang ingin ku temui sejak tadi malam. Walaupun sebenarnya malas sekali aku membahas kejadian yang membuatku kembung kelaparan. Dengan muka segar dan ribuan alasan untuk membuatku tersenyum, Damar mulai merangkai meteran kata yang sudah ku duga sebelumya. Dengan kerja keras aku mencoba mempertahankan mimic mukaku yang sedemikian rupa, walaupun sebenarnya tak kuasa aku menahan senyum yang selalu aku persembahkan di setiap percakapan kita. Tetapi sepertinya alasan yang berbeda kali ini, bukan karna ketiduran ataupun ke salon nganterin nyokap. Iya….alasan yang membuatku harus mengatur nafas lebih serius dari sebelumnya. Sontak matakupun memandang Damar dengan kekagetanku yang sedikit berhasil kusembunyikan. Dan tak ada alasan untuk ku alihkan pembicaraan Damar dengan wajah merahku yang ingin pecah di iringi tampaaran yang membengkokkan hatiku.
Pelajaran berlalu. Bel panjangpun berbunyi tanda keonaran datang seketika. Aku masih duduk menata beberapa buku yang masih tercecer di atas meja. Sesuatu yang tak terduga olehku mungkin olehmu juga. Sesosok gadis berambut panjang, dengan balutan syal yang menjadi ciri khasnya sebagai ketua dance unggulan di sekolahku. Ku berfikir sejenak. Tak mungkin jika aku yang dihampiri apalagi menawariku untuk ikut dalam club dance nya, karna suatu keanehan besar jika aku yang sudah 18 bulan menjadi ketua teater sekolah tiba- tiba bergabung untuk menari bersama Chesa dan kawan- kawan. Tapi apa yang terjadi membuatku gerah tiba- tiba berada dalam ruangan yang sebenarnya cukup dingin untuk ukuran kelas bertaraf Internasional.
Damar? Chesa?
Jadi dia yang membuat ku kembung kelaparan, kaget seribu bahasa, dan apalah perasaanku yang merasakanya. Dammar menoleh kearahku memberikan tanda yang membuatku semakin yakin bahwa Chesa lah yang menjadi alasanya hari- hari ini. Dengan senyum tipis aku mencoba mencari alasan untuk segera meninggalkan ruangan itu, meninggalkan yang ku anggap sahabat maupun yang mendampinginya saat ini.
Ku tinggalkan mereka sepenuhnya dengan kepandaianku dalam bersilat lidah. Aku berjalan menuju ruangan identitasku, bukan dance room tentunya. Disini ku lepaskan kecewaku dengan beribu pertanyaan yang membuatku bingung sendirian. Tak pernah ku rasakan ini sebelumnya, perasaan yang sebenarnya 12 bulan lebih ku pagari dengan keegoisanku untuk bertahan mendengarkan cerita- cerita Damar sebagai sahabatku. Bukan itu sepertinya. Dimana aku mencoba mengosongkan hati untuk sahabat yang hanya menganggapku sahabat. Dan bukan sesuatu yang tidak wajar bukan???
Tapi disinilah kebodohan sang pecinta datang tiba- tiba, ku ingat masa dimana persahabatan menjadi sebuah ceita yang biasanya dibanggakan kesana kemari, hingga dewa amor datang dari satu sisi saja. Egois memang, tapi mereka hanya menyebarkan cinta dimana orang itu yang mendambakanya. Aku terdiam. Tak ada gerakan tambahan selain gerakan jari yang mencoba menahan air yang berasal dari indra mata. Sampai sang laba- laba terkaget melihat aku yang sendiri duduk di tengah panggung pementasan dengan raut kaku dan tubuh lemas tergolek dalam pembaringan.
Disini sebenarnya aku yang ingin bercerita, bukan karna Damar ataupun kekecewaan yang ku ungkapkan tadi. Tetapi tentang rahasia yang ku sembunyikan dari sahabatku. Sebuah kanker ganas yang selama ini bertahan di kepalaku. Membuatku menangis semalaman, dan menakutiku akan kematian. Aku bertahan bukan karna ingin melihat dunia lebih lama dari diaknosa dokter, melainkan karna Damar yang membuat duniaku tiga kali lipat lebih lama dari semestinya. Mungkin Damar tak ku beri ruang untuk mengetahuinya, tapi lewat goresan penaku, dia tahu dimana aku memposisikanya jauh dari apa yang terlewati bersamaku. Dan bukan juga Chesa yang ada dibalik kemunafikanku, karna iapun tak tahu akhir dari ceritaku. Inilah kebagianku, melihat sahabatku tersenyum di atas istana terakhirku, walaupun masih ada penyesalan yang membutku hidup dalam ingatannya.
Untuk Damar yang sebenarnya sahabatku…………………..
Aku sebenarnya disini dari kemarin
Aku sebenarnya menunggu dari kemarin
Aku sebenarnya berharap dari kemarin
Dari kemarin….
Hingga kemarin….
Usaipun dari kemarin
Dari cerita yang berakhir
Aku terlahir
Kembali mengenang yang kemarin
Karna aku yang berakhir
Dian Lita XI IPA 1





